Dangumanu Atelier 23 September - 23 Oktober 2020

Apa yang menyamakan raja, matahari, bunga, seni dan virus ? Seluruh benda dan penanda ini merujuk pada istilah yang kini menjadi kontroversial : CORONA.

Corona yang berarti mahkota, menjadi penanda tahta raja, terletak diatas kepala raja/ratu yang memancarkan aura kekuasaan. Lingkaran cahaya yang mengelilingi matahari, memantulkan energi magis disebut suasana corona. Pelupuk bunga yang berfungsi sebagai keberlanjutan spesies menjadi corona bunga. Berbagai merek karya kreatif yang mencerminkan keanggunan dan keindahan dilabeli nama corona. Namun, dekonstruksi makna corona memasuki pemahaman baru, justru semenjak menjalarnya coronovirus, yang mengganti pengertian kita secara mendasar tentang kematian dan kehidupan.

Kompleksitas makna corona inilah, yang  ditelusuri oleh Paul Hendro (52), pelukis hiperealis, yang membenturkan makna dan cara penciptaan. Dengan makna, ia mencari objek yang menjadi rujukan untuk digambarkan dalam figur dan benda benda. Sementara melalui cara penciptaan, ia meleburkan diri dalam situasi keberadaan "kini disini" yang unik.

Paul Hendro menjajal daya tahan tubuhnya selama sebulan penuh dalam karantina kaca,  mengisolasi diri dan berkarya. Ia memulainya pada waktu sakral saat Corona penuh di Equator,  pukul 11.35 tanggal 23 September 2020. Aksi lukis sekaligus meditasi rupa yang diselenggarakan di Dangumanu Atelier -- yang berada di Bazarti Gembrongseni ini ;  merupakan tindak doa sekaligus refleksi masa pandemi untuk menyusuri makna kehidupan dan kelayuan.




Share To:

Redaksi

Post A Comment:

0 comments so far,add yours