Jakarta, TrisaktiPost - Tiga Direksi PT Liga Indonesia Baru (LIB) yakni Sudjarno (Direktur Operasional), Rudy Kangdra (Direktur Bisnis), dan Anthony Chandra Kartawiria (Direktur Keuangan) akhirnya mengeluarkan pernyataan mosi tidak percaya terhadap Direktur Utama PT LIB, Cucu Somantri. Ketiganya mengajukan mosi tidak percaya ke para pemilik saham untuk segera bertindak menyelematkan PT LIB.

Ketiga direksi ini sepedapat bahwa, pengelolaan PT LIB sebagai sebuah perseroan tidak dilakukan dengan cara-cara yang semestinya sebagaimana diatur oleh perundang-undangan di bidang Perseroan Terbatas, Anggaran Dasar Perseroan dan prinsip-prinsip Good Corporate Governance.
Mereka mengungkapkan bahwa pengambilan keputusan perseroan banyak dimonopoli dan diputuskan secara sepihak oleh pejabat Direktur Utama, di antaranya kebijakan terkait HRD, keuangan, sponsor dan lainnya tanpa melalui mekanisme rapat direksi sebagaimana mestinya.
“Bahwa praktek monopoli dan pengambilan keputusan secara sepihak tersebut telah menimbulkan keresahan di kalangan internal perseroan dan dikhawatirkan dapat menimbulkan demoralisasi di kalangan karyawan serta berpotensi menimbulkan permasalahan hukum yang dapat merugikan perseroan di kemudian hari,” kata tiga orang direksi tersebut (5/5/2020).

Oleh karena situasi tersebut, anggota Dewan Direksi Perseroan menyangkal keterlibatan dan tanggung-jawab atas keputusan-keputusan yang dibuat secara sepihak oleh Direktur Utama tanpa sepersetujuan dan melalui Rapat Direksi sebagaimana mestinya.

"Menimbang hal-hal tersebut, para direksi memohon kepada Para Pemegang Saham Perseroan agar dapat segera menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa untuk meneliti pengaduan terkait keresahan di Internal Perseroan, melakukan evakuasi terhadap kepengurusan Perseroan serta untuk mengambil langkah-langkah penyelematan demi kebaikan Perseroan," tulis mereka bertiga.

Keliru dan Melampaui
Dari sisi kepemilikan properti kompetisi itu, PSSI lah yang paling berhak. Buktinya, hasil kompetisi yang dikelola PT LIB, dapat dibawa ke jenjang AFF (ASEAN), AFC (Asia), karena PSSI adalah anggota kedua badan sepakbola ASEAN dan Asia itu. Secara tegas menunjukkan bahwa PT LIB hanya pengelola dan bukan anggota AFF dan AFC. Tanpa PSSI hasil kompetisi PT LIB tak ubahnya kompetisi 'tarkam' alias tarikan kampung, sambungnya.

Pada sisi lain posisi Direktur Utama PT LIB yang dijabat oleh Cucu Somantri merupakan kesalahan fundamental. Di satu pihak Cucu Somantrai selaku ketua Komite Kompetisi PSSI, sebagai fasilitator yang mengeluarkan kebijakan dan mengawasi aksi, tapi di sisi satunya sebagai Dirut PT LIB, pihak yang menjalankan kegiatan atau eksekutor. Artinya Cucu Somantri bertanggung jawab pada Cucu Somantri.

Untuk itu, agar persoalan ini tidak bertambah kusut, PSSI harus segera kembali ke statuta. Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan juga harus legowo untuk meminta maaf atas kekeliruannya itu. Lebih baik salah sekarang dan memperbaiki diri, dari pada terus membiarkan kesalahan hingga berlama-lama.

Dengan kembali ke statuta, maka Cucu Somantri tidak lagi berada di PT LIB sebagai eksekutor, tetapi kembali pada posisi fasilitator atau pengawas, yakni Ketua Komite Kompetisi sebagaimana tertera dalam pasal 46, statuta. Diharapkan dengan begitu, maka PSSI tidak perlu lagi bersitegang dengan PT LIB. . [A23]
Share To:

Post A Comment:

0 comments so far,add yours