by Sunardian Wirodono

Bukan kematian Didi Kempot benar yang membuat sedih. Melainkan sedih juga, kematiannya jadi korban ujaran kebencian kaum kadrun. Bukan hanya ada yang mempertanyakan agama DK melainkantega memalsukan foto entah siapa, tubuh manusia dalam peti-mayat yang terbuka, dengan caption yang memframing agama DK secara negatif. Pasti gara-gara nama Dionisius Prasetyo!
Dari sekian fesbuker yang berkomentar dalam postingan saya, ada satu ibu yang menanyakan; “Apakah dia seorang muslim?” Ketika saya melihat PP akun fesbuk yang menanyakan, saya sudah bisa menduga. Semula saya menjawab pertanyaan tersebut di kolom komentar terbuka. Tapi, buru-buru saya hapus, dan saya jawab via inbox karena merasa tak patut.

Gus Dur pernah berujar, (kira-kira begini) “Jika engkau melakukan perbuatan baik, orang tidak akan menanyakan apa agamamu.” Tapi, kalau masih ada juga yang nanya gituan, cem-mana Gus? Saya jengkel dengan pertanyaan kek gitu itu. Mungkin karena sejak dulu diajari orangtua saya, untuk tak menanyakan apa agama seseorang, apalagi secara terbuka, di depan umum.

Nggak sopan. Nggak etis. Lebih karena pada kenyataannya, tak banyak yang siap menerima jawaban, maupun menjawab, pertanyaan itu. Jika ada yang bilang perbedaan adalah berkah, saya lebih meyakini itu bohong, kecuali syarat dan ketentuannya berlaku. Yakni, kedewasaan. Tanpa hal itu, perbedaan adalah bencana.

Didi Kempot, menurut Rosiana Silalahi, pimred Kompas TV sebagai mediator ‘Konser Amal dari Rumah’, adalah inisiator acara ‘Konser dari Rumah’. Ngotot Didi menawarkan ide itu, dengan alasan imbauan pemerintah menghadapi pandemi coronavirus dan penggalangan dana. Didi Kempot bahkan bilang ia akan membiayai sendiri penyelenggaraan pentas di rumahnya, dengan catatan Kompas TV menayangkan untuk tujuan mengumpulkan donasi masyarakat.

Konser terselenggara (11/4/20). Dalam tiga jam pertunjukan, ribuan donator menyumbang hingga terkumpul Rp 5 milyar lebih. Server kitabisadotcom yang dipakai penyaluran donasi, down alias jebol. Buka rekening lain, via bank, hingga total terkumpul Rp 7,6 milyar. Ketika diberitahu hal itu, dan ditanya hendak mengambil berapa (untuk honor maksudnya) Didi Kempot menolak. Ia juga menolak penggantian uang pribadi yang dikeluarkannya untuk produksi pentas di rumah itu. Ia menyerahkan penuh pada Kompas TV untuk membagikan pengumpulan dana itu ke masyarakat.
Beberapa hari kemudian, DK meninggal (5/5/20). Jagat maya kaget. Sobat Ambyar ambyar sewalang-walang. Tapi ada saja komentar miring dan tak etis. Mempertanyakan agama Didi Kempot. Saya menduga karena membaca nama ‘aselinya’, Dionisius Prasetyo. Itu nama baptis, sebagaimana beberapa kakak dan adik DK mengikuti agama ibunya. Ayahnya, Mbah Ranto Edi Gudel marhum, setahu saya penganut Kejawen, meski mungkin di KTP tertulis nama agama.

Didi Kempot, menganut agama Islam 1997. Dalam KTP saya lihat  (ketika melakukan kontrak dengan XMal Sindikasi, pelaksana produksi Es Campur Es  TV7, di mana saya terlibat), nama yang tertera Didik Prasetyo (pakai k), beragama Islam. Tahun-tahun terakhir saya kemudian mendengar, bersamaan ngehitnya Gus Miftah, DK sering ke Yogya, mengikuti pengajiannya.

Tapi untuk apa saya menjelaskan hal ini? Tidak penting banget, karena saya bukan Malaikat Raqib dan Atid. Apa yang dilakukan DK, bagi saya jauh lebih penting. Ia orang baik, hidupnya berakhir dalam kebaikan. Meski ngetop, ia ugahari, prasaja, rendah hati, semanak pada liyan. Selalu tak lupa menyatakan ‘matur nuwun’ pada siapapun.

Dalam 3 jam menggerakkan orang untuk serentak menyumbang, sampai sejumlah Rp 5 milyar, itu luar biasa. Seperti dikatakan Rosiana Silalahi, ada yang menyumbang Rp 50 ribu, Rp 10 ribu, bahkan Rp 5 ribu. Dan dari donasi Konser Amal dari Rumah Didi Kempot senilai Rp 7,6 milyar itu, oleh panitia disumbangkan ke masyarakat melalui PBNU sebesar Rp. 2.092.500.000 (2 milyar 92 juta 500 ribu). Kemudian melalui Lazismu Muhammadiyah sebesar Rp 2.122.000.000 (2 miliar 122 juta). Mau dipermasalahkan juga, kok untuk warga NU lebih kecil dibanding warga Muhammadiyah? Terus warga lainnya gimana? Astagfirullahalladzim, lu tu ye!

Didi Kempot adalah kebaikan, yang memberikan vibrasi kebaikan pada banyak orang. Dengan latar belakang apapun. Dari mana pun. Bahkan saya yakini, agama apapun. Karena buat apa agama, jika hanya untuk menebar kebencian dan kenyinyiran? | @sunardianwirodono
Share To:

Post A Comment:

0 comments so far,add yours