Ukus Kuswara @Kemenpar RI


Taufik Rahzen

Ukus Kuswara adalah jangkar garam. Ia adalah jangkar, dari kapal yang sedang melayari samudra cinta. Kehadirannya meluruhkan ego masing masing dalam kebersamaan, ketidak hadirannya meneguhkan dimana posisi kita berada. Ketiadaannya justru menghadirkan keberadaannya.

Namun jangkar ini, tidak disusun oleh besi, kayu atau benda benda. Ia tak berbentuk, tak terlihat. Ia berwatak garam, terasakan tapi tak terkatakan. Keberadaannya selalu membuat titik azimut : titik patokan dari mana kita harus berangkat, kemana kita mencari tanda kembali, jika tersesat.

Ukus adalah jangkar garam. Ia memberikan rasa dalam persahabatan. Diantara waktu yang bergerak mengikuti iramanya, ia memilah antara ombak dan riak dalam gelombang. Ia selalu tersenyum dalam lautan rasa. Seolah berkata : hiduplah kini, disini. Ia menjadi penyedap dan pengingat. Sedapnya hidup, namun mengingatkan betapa fana.

Ia adalah peziarah wara. Yang menyembunyikan kesalehan dalam tindakan, yang menyapa dalam kesendirian. Yang menyusuri lorong ruang dan lorong waktu. Ia pembuka pintu pertama , sekaligus penutup kunci terakhir. Ia melayap diantara siang dan malam, memeriksa apa yang tersisa, memeriksa apa yang terlupa.

Ukus Kuswara adalah saksi. Tentang tempat dan peristiwa. Suatu saat pernah bercerita : bagaimana ia berbaring dari lantai ke lantai. Menyaksikan gedung Sapta Pesona, disusun dari bata ke bata, bersembahyang diantara serpihan ruang yang sedang terbangun. Sendiri ditengah keheningan. Dan kemarin, ia dibaringkan dan disembahyangkan di lantai yang sama ia berbaring, tiga puluh tahun yang silam. Disembahyangkan oleh semua yang mencintainya, dan dalam keadaan berbaring ia tetap tersenyum.

Cara melakukan tindakan mencerminkan sifat dari tujuannya. Itulah ajaran sunyi yang selalu dibeberkan melalui tanda tanda. Demikian pula dengan kepulangan yang tiba tiba ke tanah kelahirannya. Ia disambut azan Asar di Mesjid Agung Kuningan, di bawah matahari kuning. Saat ia dikembalikan dengan tenang di gua garba, rumah sementaranya, sinar asar merayap diantara daun dan batang pohon. Diantara derai dan desau, ia seperti menghentikan peristiwa. Diantara mata mata yang basah, terdengar lamat lamat lantunan yang selalu menjadi panduan hidupnya.

"Demi waktu (Asar). Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang beriman dan beramal saleh, serta mereka yang saling nasehat menasehati dalam KEBENARAN dan KESABARAN."

Ia menggenapkan ayat ini dalam hidupnya, dan memberi kesaksian dalam kematian. Betapa indahnya. Jangkar garam itu telah berlabuh.

Takzim, sahabatmu yang fana Taufik Rahzen.
Share To:

Post A Comment:

0 comments so far,add yours