Oleh Roni Tabroni

Untuk memastikan bahwa kabar itu benar diperlukan cross check dan berhenti bergerak sejenak. Kenapa tidak, kabar meninggalnya Kang Sunatra begitu mengejutkan dan menyedihkan.

Secara umum saya termasuk yang tidak banyak bersentuhan dengan kang Sunatra. Walaupun memiliki kesamaan profesi sebagai dosen, beliau terlampau senior dan beda kampus. Hampir tidak pernah bersama dalam forum-forum terkait dengan profesi dosen, kecuali diskusi kecil tentang pendidikan, ilmu yang sangat dikuasainya.

Selebihnya, saya mengenal kang Sunatra sebagai sosok politisi senior. Awalnya di tahun 2009, seorang teman (Nunung Sanusi) sering kali menyebut-nyebut seniornya di Golkar yang sangat dikaguninya. Perjumpaan pun seringkali terjadi secara tidak sengaja, yang salah satu tempat bertemu yang masih ingat adalah di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

Awal perjumpaa  membuat fikiran melayang, ini politisi atau guru? Sebenarnya kedua profesi ini ada dalam diri kang Sunatra. Tetapi sosok politisinya hampir tidak tampak. Pembawaan yang humoris, rendah hati, dan tidak canggung ngobrol dengan orang jauh lebih muda dan baru dikenalnya.

Tidak banyak moment yang bisa mempertemukan saya dengan politisi senior Golkar yang sudah malang nelintang di dunia politik, baik di tingkat provinsi (DPRD)  maupun pusat (DPR RI). Tetapi pertemuan sesekali itu selalu meninggalkan kesan.

Mengakhiri karir politik di Golkar beliau menyampaikan pernyataannya di GIM (bukan hotel berbintang) dengan liputan medi cukup luas. Di situ saya kembali belajar, menjadi politisi memang harus punya sikap yang tegas, walaupun kang Sunatra tidak memutuskan silaturahim denga rekan-rekannya di Golkar.

Setelah Pemilu 2009, saya lama tidak bertemu kang Sunatra. Rupanya beliau konsen di kampus sebagai pengajar dan kesibukan lainnya. Pertemuan yang hanya sekilas tidak mengubah kesan beliau yang tetap ramah, santun, dan menghargai orang yang lebih muda.

Keuletan dalam berpolitik, menghantarkannya menjadi salah seorang jajaran teras Partai Gerindra Jawa Barat. Kehadiran kang Sunatra di Partai besutan Prabowo Subianto ini telah melambungkan nama Gerindra dalam berbagai pemberitaan media. Gerindra menjadi buah bibir. Kang Sunatra tahu bagaimana menciptakan konten-konten yang "seksi" bagi media.

Selain proses seleksi calon Gubernur di tahun 2014 yang mencuri perhatian banyak pihak, kang Sunatra mengeluarkan statement yang sangat mengejutkan publik. Tanpa tedeng aling-aling, kang Sunatra menyampaikan ke media massa bahwa menjadi Gubernur harus memiliki dana mininal Rp. 300 Milyar. Ini pun disebutny sebagai paket hemat.

Sontak saja pernyataan itu menimbulkan perdebatan yang cukup keras di masyarakat, di kalangan akademisi, termasuk di kalangan politisi. Tetapi kang Sunatera merasa apa yang disampaikannya merupakan sebuah kejujuran, ketimbang pura-pura menutupi kebutuhan biaya politik, lebih baik dibuka sebagai bentuk pendidikan politik.

Di Pilkada serentak 2018 ini sebelumnya diawali perdebatan berbagai kalangan tentang mahar politik dan biaya politik. Artinya, tanpa harus ditutup-tutupi, bahwa sistem demokrasi kita membutuhkan dana yang sangat besar. Jika masyarakat baru paham sekarang, dan sebagian politisi baru mau menyampaikannya walaupu malu-malu, kang Sunatra sudah membukanya beberapa tahun ke belakang.

Dengan modal pengalaman dan jaringan yang dimiliki, tahun 2014 kang Sunatera terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Barat dari Jabar I (Kota Bandung dan Kota Cimahi). Menjadi wakil rakyat, kang Sunatra tidak pernah berubah. Satu tahun pasca dilantik jadi wakil rakyat saya kembali bertemu. Sikap, cara menyapa, gaya bicara, semuanya tidak ada yang berubah: tetaplah kang Sunatra yang selalu tersenyum, rendah hati dan tidak menggurui. Bahkan sebaliknya, kang Sunatra adalah orang yang mau mendengar, menyimak dan menanggapi orang lain termasuk orang yang lebih muda.

Singkat kata, bersama kang Nunung dan Kang Bono, saya diajak untuk membantu kang Sunatra setiap kali Reses. Kegiatan yang rutin ini selalu saya ikuti, baik dari perencanaan hingga pelaksanaan di lapangan.

Saat reses seringkali saya belajar bagaimana kang Sunatra menyapa warga, bagaimana gaya humornya, bagaimana cara menyampaikan gagasan-gagasannya. Namun yang khas dari kang Sunatra, beliau pun saat reses lebih suka mendengar aspirasi ketimbang menggurui masyarakat. Pada saat reses itulah saya seringkali belajar bagaimana cara kang Sunatra membahagiakan warganya. Disana ada senyum warga yang mengembang, ada gelak tawa, ada ceria dan optimisme.

Kang Sunatra orang yang ingin melaksanakan tugas dengan baik. Setiap kali reses selalu memiliki tim dengan perencanaan yang cukup matang. Sejak awal saya terlibat, sebagai orang yang sangat berpengalaman di dunia politik dan kemasyarakatan, kang Sunatra selalu mendengarkan dan meminta saran kepa tim; daerah mana saja yang harus didatangi, dan materi apa yang harus disampaikan.

Kang Suantra selalu mengikuti apa yang direncanakan tim, walaupun mungki  belum punya pengalaman lapangan yang matang. Tetapi kepercayaan kang Sunatra pada tim, dari mulai pengelolaan anggaran reses hingga isu yang diangkat, benar-benar terbuka.

Hingga suatu saat pasca reses di daerah Cikutra, di tengah guyuran hujan lebat kang Sunatra menghampiri tim yang selalu setia menunggu acara sampai selesai. Tidak disangka beliau mengajukan pertanyaan: "kumaha tadi akang, leres teu nyarios? Bilih aya nu lepat. Cik naon nu kedah diperbaiki?"

Kang Alex yang saat itu masih bagian dari tim reses kang Sunatra memberikan koreksi terhadap materi pembicaraan kang Sunatra. Kemudian memberikan masukan juga utuk hal-hal yang perlu disentuh ketika bertemu dengan masyarakat dengan karakteristik tertentu. Sambil menunggu hujan reda kami ngobrol dan saling memberikan masukan. Dalam kondisi seperti itu kang Suantra benar-benar mendengarkan dan menyimak apa yang kita bicarakan. Sampai akhirnya setiap kali bertemu dengan warga selalu dilakukan penyempurnaan-penyempurnaan.

Bagi saya yang awam politik, menjadi politisi sekelas kang Sunatra sudah tidak perlu lagi belajar pada kami yang sebenarnya lebih banyak tidak tahunya. Tetapi itulah kang Sunatra yang tidak bosan belajar, kepada siapa saja tanpa harus gengsi.

Kang Sunatra juga termasuk orang yang tidak enakkan. Beliau tidak kuasa menolak jika ada orang yang meminta bantuan, tidak enak jika tidak menghadiri undangan, walaupu acaranya kecil dan jauh sekalipun. Dalam beberap hal ketidak enakkan kang Sunatra ini memberikan pelajaran, dirinya tidak mau sampai membuat orang tersinggung, tidak ingin membuat orang merasa disepelekan, tidak mau orang lain sakit hati karena dirinya.

Kesan penting saya, ketika merasakan dan mengalami sebuah kesederhanaan dan tidak gengsi dengan ruang-ruang dimana rakyat kecil berada. Kang Sunatra tidak menolak jika diajak ngobrol di tempat-tempat umum, bukan tempat mewah dan hotel berbintang. Ketika makan, hampir tidak pernah menunjukkan kemewahan, mulai tempat sampai menu. Bahkan suatu saat, saya dan kang Nunung diajak makan mie kocok, tempatnya di roda biasa yang mangkal di lapang Persib depan Disdik Kota Bandung. Orang besar mau berjejal dengan orang biasa hanya untuk jajan mie kocok dalam kondisi hujan dan becek.

Dan paling mengesankan khususnya bagi saya adalah ketika seorang politisi senior yang ramah ini konsisten dengan tradisi menulisnya. Hampir setiap Reses, kang Sunatra selalu membuat tulisan, difotocopy kemudian dibagikan. Bahkan kehadiran saya dalam aktivitas politiknya, khusus memproduksi berita untuk media, yang sebenarnya bahan mentahnya sudah disiapkan kang Suantra sendiri - selain wawancara dan menganbil dari statemen-statement ketika bertemu warga.

Tradisi menulis ini kemudian dapat dibuktikan lagi dengan lahirnya beberapa buku yang cukup penting, baik terkait dengan berit-berita di media sampai buku-buku tentang demokrasi. Produk buah tangannya ini tentu saja menjadi warisan sangat berharga, melengkapi kesan beliau selama ini yang rajin, rendah hati, sopan, dan selalu belajar.

Kelengkapan warisannya ini akan memberikan pelajaran kepada siapa saja, baik politisi, akademisi dan aktivis sekaligus - sebab beliau pun adalah aktivis AMS, sebuab almamater yang dicintainya.

Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi USB YPKP dan Aktivis Muhammadiyah
Share To:

Arahman Ali

Post A Comment:

0 comments so far,add yours