Aguk Irawan MN

Sejarah, jika kita pakai pandangan Badiou, adalah sebuah “kejadian” yang sudah pergi, tetapi terikat dengan hari ini, dengan situasi yang satu patah, dan hanya sejarawanlah yang bisa menyambungkan. Karenanya, seorang penulis sejarah yang baik tahu, bahwa ia selain sebagai pencatat, juga pelaku sejarah dikemudian hari. Ia membangun opini pada hari ini untuk sesuatu yang akan datang, karena itu bekal yang ia punya tidak cukup sebuah struktur pengetahuan, tetapi juga harus dari bahan-bahan materi yang tidak mudah melayang, seperti artefak, arkealogi dan manuskrip.


Ketiga hal itu juga tidak cukup, sebab persepsi dari telaah terhadap "materi sejarah" itu tak pernah solid dan stabil. Seperti penemuan lempeng koin berlafalkan tauhid di zaman Majapahit, yang kini sedang ramai diperbicangkan, --ketika ia menampakkan diri di depan kita, sebenarnya saat itu ada proses dialektika. Tetapi, ini yang penting, orang terlebih dulu perlu hati-hati untuk bisa menjawab darimana asal mula koin itu? Apakah berasal dari dalam Majapahit atau dari luar? Menjawab pertanyaan ini penting untuk mengurai perjalanan sejarah, karena masa masa lalu sebenarnya tak bisa diberi bentuk yang paten.

Menurut Sri Sujatmi, berdasarkan data arkeologi dalam judul Proceeding Analisa Hasil Penelitian Arkeologi Majapahit, (Jakarta; Depdikbud, 1991; 47) juga A. Daliman, dalam bukunya Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Islam Nusantara (Yogyakarta; Ombak, 2012; 22) menjelaskan, bawa pada masa kejayaan Majapahit peredaran mata uang ma sudah mulai merosot sebab telah digantikan dengan mata uang kepeng. Raja menaruh perhatian besar terhadap peredaran mata uang kepeng dari kerajaan Perlak, yang bertuliskan syahadat itu dengan cara menyuruh para pendatang dari luar Majapahit untuk menukarkan uang mereka dengan uang resmi kerajaan tersebut. Kenapa ini bisa terjadi? Selain karena faktor ekonomi duni saat itu yang sedang berpihak pada dunia islam, juga faktor lain, yaitu hubungan yang baik antara Majapahit dan kerajaan bagiannya yang Islam; Perlak, Samudra Pasai dan Malaka.

Geledahlah sumber lama, misalnya kitab Ling-Wai-Ta yang disusun oleh Chou-Ju-Fei (1178), dan kitabnya Chu-Fan-Chi yang disusun oleh Chau-Ju-Kua (1225) gambaran mengenai di atas akan lebih jelas. Ini sedikit kisahnya; zaman itu Sriwijaya sedang dalam masa sulit, untuk mencegah kemunduran di bidang perdagangan yang mungkin akan berpengaruh pula di bidang politik, maka Sriwijaya berusaha menaikkan tarif bea cukai bagi kapal-kapal dagang dan pesiar yang singgah di pelabuhan-pelabuhannya. Namun ternyata usaha-usaha itu bukannya menaikkan pendapatan, karena lebih mendapatkan keuntungan, tetapi justru lebih merugikan, karena kapal-kapal dagang lebih menghindari bandar-bandar Sriwijaya, dan berusaha menembus blokadenya dan mencari serta menuju ke tempat-tempat yang mereka ketahui banyak menghasilkan barang-barang dagangan.

Akibatnya kemunduran di bidang politik tidak dapat dielakkan lagi. Kemudian akibat krisis ini, beberapa daerah banyak yang melepaskan diri. Mulanya adalah Colamandala di Sumatra Selatan, kemudian Kampe di Sumtra Utara, lalu mengangkat raja sendiri, tindakan Kampe ini memberikan keberanian pada kerajaan yang terbesar bagian Sriwijaya, yaitu Semenanjung Malaka untuk melepaskan diri. Politik Nusantara dari raja-raja Jawa ikut mempercepat keruntuhan kejayaan Sriwijaya. Politik Nusantara bertujuan untuk mempersatukan negara-negera (kerajaan-kerajaan) di seberang lautan atas dasar dan landasan persahabatan serumpun.

Pada hakikatnya kata Nusantara ini menunjukkan kesatuan atas pulau-pulau, yakni negara-negara di seberang lautan atau negara di luar pulau Jawa tapi masih serumpun. Politik Nusantara yang pertama dilaksanakan oleh Raja Kertanagara dari Singasari. Pada tahun 1275 Kartanegara dari Singasari mengirimkan ekspedisi ke daerah Semenanjung Malaka (melayu) untuk menanamkan pengaruhnya di wilayah tersebut. Ekespedisi ini dikenal sebagai ekspedisi Pamalayu. Penguasaan daerah Semenanjung Malaka sangat penting, sebab dengan menguasai daerah itu akan menguasai Selat Malaka yang memegang kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasinal.

Keberhasilan politik Nusantara pertama terbukti ketika pada tahun 1286 Raja Kartanegara mengirimkan arca Amoghaphasa yang terbuat dari emas sebagai hadiah kepada Raja Melayu, Warmadewa. Ini berarti Singasari sudah memperkecil dan memperburuk situasi politik, ekonomi dan kekuasaan Sriwajaya. Lebih jauh lagi, lepasnya Semenanjung Malaka dari tangan Sriwijaya terus mendorong pula daerah-daerah lain untuk menyatakan lepas dari kerajaan tersebut. Kekuasaan daerah-daerah tersebut yang telah diletakkan Kartanegara dilanjutkan dan dimantapkan generasi berikutnya, yaitu Majapahit melalui politik Nusantara kedua dibawa Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gadjah Mada.

Melemahnya Sriwijaya memberikan kesempatan Islam yang sudah dipeluk sebagian rakyat pesisir (bandar-bandar) untuk sedikit berkembang ke daerah agraris, kemudian tumbuh sebagai kekuatan politik. Pedagang-pedagang yang beragama islam pun menjadi pendukung daerah-daerah yang muncul dan menyatakan dirinya sebagai kerajaan Islam. Demikianlah pada akhir abad ke 12 di pantai timur Sumatra Utara telah berdiri kerajaan Islam pertama yaitu Perlak (Peureulak) yang memisahkan diri dari Kampe (Sriwijaya), kemudian diikuti berdirinya Samudra Pasai pada akhir abad 13 di pantai Timur laut Aceh, Kabupaten Lhok Seumawe atau Aceh Utara, sekarang.

Adanya dua kerajaan Islam pertama di pantai Aceh Utara itu diberitakan oleh Marco Polo yang singgah di daerah itu pada tahun 1222. Kedua kerajaan Islam pertama itu merupakan hasil proses islamisasi di daerah-daerah pantai ujung utara Sumatra yang mungkin disinggihi pedagang-pedagang Islam dan para pendakwah Islam sejak abad-abad sebelumnya, bahkan diperkirakan sejak tahun 625 M. Kerajaan Samudra Pasai dan Kerajaan Perlak semakin berkembang di bidang politik dan perdagangan, sebaliknya Sriwijaya semakin runtuh.

Hubungan Samudra Pasai, Perlak dan Semenanjung Malaka juga semakin erat, sehingga di Malaka sejak abad 14, Islam banyak dipeluk oleh masyarakatnya, sehingga tak lama dari itu Semenanjung Malaka telah berdiri kerajaan Islam. Pada masa itu, ketiga kerajaan besar di ujung barat Nusantara itu menjadi bagian dari kerajaan Majapahit. Kebasaran Majapahit juga menjadi kebesaran Kerajaan mereka juga. Adanya kerajaan Majapahit di ujung barat dengan kerajaan Islam itu rupanya tidak menjadikan soal bagi Majapahit.

Ketiga Kerajaan itu belum dirasakan sebagai ancaman politik bagi Majapahit yang Hindu. Samudra Pasai bahkan dibiarkan mengadakan hubungan dengan Cina, Persia, India dan Arab. Begitu pula banyak pedagang-pedagang Majapahit yang berdatangan ke Samudra Pasai, dari situlah masyarakat menjalin interkasi sosial yang erat, dan lambat laun Islam dipeluk oleh pedagang-pedagang Majapahit, demikian juga para pedagang Islam itu kemudian mendarat di pelabuhan-pelabuhan Gersik, Tuban dan Surabaya, daerah yang dekat dengan kekuasan Hindu-Majapahit. Bahkan tak jarang, Raja Samudra Pasai, Zainal Abidin mengunjungi Majapahit dengan pengawalnya yang beragama Islam dan berbulan-bulan tinggal di Majapahit. Saat bertemu dan berbincang itulah, Sultan Zainal Abidin memanggil nama Gajah Mada yang hindu dengan Gaj Ahmada. Begitu juga rakyat Perlak.

Tepat pada tahun 1371 Kerajaan Sriwijaya hancur dan pecah menjadi tiga bagian: Kerajaan Palembang, Kerajaan Dharmacraya dan Kerajaan Pagarruyung. Kehancuran ini selain faktor politik Sriwijaya juga faktor kerajaan Islam yang merupakan bagian dari Majapahit, yaitu Perlak, Samudra Pasai dan Semenanjung Malaka yang telah menjadikan tiga pusat kerajaan itu penduduknya banyak yang memeluk islam, sehingga menghapus kerajaan Sriwijaya yang berdiri kokoh selama-berabad-abad. Mengingat tiga daerah itu dahulunya sebagai pusat pendidikan agama Budha bagi kerajaan Sriwijaya, dan meninggalkan banyak bangunan ashrama-ashrama atau dukuhpuntren-dukuhpuntren, dalam perjalanan selanjutnya pusat pendidikan agama Budha ini berganti menjadi pusat pendidikan agama Islam (pesantren-pesantren) yang menginduk pada kerajaan Islam Samudra Pasai dibawa panji Majapahit lama.

Pengaruh politik Majapahit terhadap Samudra Pasai, Semenanjung Malaka dan Perlak menjadi sangat berkurang setelah di pusat Kerajaan Majapahit sendiri timbul kekacauan politik sebagai akibat perebutan kekuasaan diantara kalangan raja. Demikianlah kerajaan-kerajaan yang jauh dari pengawasan pusat kerajaan Majapahit seperti halnya Samudara Pasai, Semenanjung Malaka dan Perlak, secara langsung maupun tidak, telah ikut mempengaruhi berdirinya kerajaan Islam di Jawa yaitu Kerajaan Demak Bintoro, berkembang dan berevolusi sehingga mencapai puncaknya sampai abad ke 16. Wallau'alam. [Sumber: https://www.facebook.com/LESBUMI.official/posts/859111197569206:0]
Share To:

Arahman Ali

Post A Comment:

0 comments so far,add yours