Majalengka, TrisaktiPost - Ada yang ingin menghilangkan peran NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beragam cara mereka lakukan, salah satunya dengan melakukan penghinaan terhadap para Ulama NU dan Kyai Pesantren. Padahal sejarah mencatat dengan tinta emas perjuangan Para Ulama dalam kemerdekaan Indonesia dan mengisinya dengan peningkataan kualitas pendidikan dan kehidupan sosial.

Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH.Maman Imanulhaq di hadapan ratusan Kyai dan ribuan jamaah Haul KH. Buchori di Ponpes Al-Buchorie Garawangi Sumberjaya Majalengka pada Ahad (08/01).

Maman yang juga Anggota DPR RI itu mengingatkan kaum Nahdhiyyin tentang sejarah berdirinya NU. Dimana menurutnya NU berdiri berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam kala itu, diantaranya adalah pada tahun 1924, Syarif Husein raja Hijaz ( Makah ) yang berfaham Sunni (ahlus sunah wal jama’ah) ditakluk- kan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabiy.

Wahabiy kemudian melarang semua bentuk amaliah ke-agamaan kaum Sunni, yang sudah berlaku di Tanah Arab dan dunia Islam seperti sistem bermadzhab, tawasul, maulid Nabi, ziarah kubur. Semua  dilarang dan digantikan ajaran wahaby yang a-historis, anti budaya lokal, anti perbedaan dan tidak mau ada dialog.

"NU lahir sebagai pembela paham ahlussunah wal jamaah yang diamalkan para Ulama dan umat Islam di Indonesia sejak lama". papar Maman.

Kyai muda yang juga pengasuh Ponpes Al-Mizan Jatiwangi ini mengajak jamaah untuk mendakwahkan Islam yg toleran, damai dan progressif melalui Sosmed untuk melawan kelompok radikal, intoleran dan teroris.

Tampak hadir pad kesempatan Haul KH. Buchori tersebut Ketua PCNU Majalengka, KH. Harun Bajuri, Anggota DPRD FPKB Jawa Barat, H. Nasir, S.Ag, Anggota DPRD FPKB Kab. Majalengka Drs. M. Jubaedi dan Suheri, Ketua GP Ansor Majalengka, Ahmad Cece Asyfiyadi, Komandan Banser Majalengka, Wahyudin serta tokoh-tokoh ulama dan kyai lainnya.
Share To:

Arahman Ali

Post A Comment:

0 comments so far,add yours