Ivan Taniputera

Mungkin kisah ini tidak banyak yang tahu. Sesungguhnya peristiwa ini terjadi kurang lebih dua atau tiga tahun sebelum saya datang ke Jerman. Jadi sekitar tahun 1990-an. Saya mendengarnya dari seorang kawan mahasiswa senior. Sebelumnya saya perlu menjelaskan terlebih dahulu, apa yang dimaksud Skinheads. Apa yang disebut skinhead adalah sekumpulan para pemuda Jerman anti orang asing (Auslaender). Sebagian besar di antara mereka adalah pengangguran (Arbeitlos). Mereka menyalahkan atau mengambing-hitamkan orang asing sebagai perampas pekerjaan mereka.  Ciri khas para skinhead adalah berkepala botak, mengenakan jaket kulit, dan sepatu bot (tentu saja tidak semua orang yang berciri seperti itu pasti adalah skinhead). Mereka biasanya gemar menganggu dan memukuli orang asing. Sewaktu saya berada di sana, maka ada dua mahasiswa Indonesia yang dipukuli oleh skinhead. Selain itu, ada pula pendatang asal Afrika yang dipukul dan dibuang dari kereta hingga cacat. Orang juga menyebut skinhead ini sebagai neonazi.

Baik kita kembali pada topiknya. Apa yang saya tuturkan di sini adalah berdasarkan ingatan semata. Jadi rinciannya belum tentu 100 persen tepat. Namun saya harapkan garis besarnya sudah benar. Awal mula kisah itu adalah seorang mahasiswa asal Afrika Utara (kalau tidak salah Aljazair) yang mengunjungi pasar malam (Fest). Ia dipukuli oleh para skinhead yang berada di sana. Mahasiswa Afrika itu lantas kembali ke asrama mahasiswa dalam keadaan memar-memar. Ia kemudian meminta tolong pada para mahasiswa asal Indonesia, karena konon mahasiswa kita yang berasal dari aneka etnis dan suku bangsa terkenal akan kekompakannya, sehingga disegani di sana.

Para mahasiswa Indonesia (termasuk salah satunya kawan saya) setuju menolong membalaskan dendam mahasiswa Afrika tersebut. Mereka lalu berjalan menuju pasar malam dan memintanya agar menunjukkan skinhead yang telah memukulinya. Ternyata hanya tinggal seorang skinhead saja, yang langsung dihajar oleh para mahasiswa asal Indonesia. Kemudian rombongan meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke asrama mahasiswa.

Ternyata skinhead yang dihajar itu tidak terima dan mencari kawan-kawannya. Dengan demikian, terkumpullah sepasukan skinhead yang segera mengepung dan menyerbu asrama mahasiswa. Mereka menantang para mahasiswa asing agar turun menghadapi mereka. Para mahasiswa Indonesia dengan kompak segera turun dengan membawa berbagai peralatan yang dapat dijadikan senjata. Kawan saya ketika itu membawa rantai. Pertempuran segera pecah dan menurut kawan saya, waktu itu ia sudah tidak ingat apa-apa lagi, pokoknya hanya menyerang untuk bertahan. Ia mengibas-ngibaskan rantainya ke kiri dan ke kanan tanpa banyak berpikir. Akhirnya pasukan skinhead terdesak mundur dan lari meninggalkan asrama mahasiswa.

Teman saya melihat bahwa bajunya sudah penuh darah. Ia menyangka bahwa dirinya luka parah. Tetapi sewaktu membuka bajunya, ternyata ia tidak luka sama sekali. Keberanian mahasiswa Indonesia di Jerman ini sebenarnya dimuat dalam sebuah majalan bulanan nasional, tetapi dalam artikel yang tidak begitu mencolok.

Meski peristiwa ini tidak begitu terkenal dan sudah terlupakan, namun kita patut mengacungkan jempol terhadap semangat persatuan dan kekompakan mahasiswa kita. Semangat persatuan dari mereka yang terdiri dari beberapa etnis serta suku bangsa itu terbukti dapat menghalau serangan skinhead.
Share To:

Trisakti TV

Post A Comment:

0 comments so far,add yours