Jakarta, TrisaktiPost - Letusan gunung Tambora tahun 1815 telah mengubah wajah dunia, letusannya termasuk  terdahsyat dan terbesar sepanjang sejarah manusia modern. Akibat letusannya itu, tidak hanya berdampak di Pulau Sumbawa dan pulau Lombok saja, juga mempengaruhi Eropa dan belahan bumi bagian utara.

“Sekiranya Tambora tidak meletus, maka Amerika Serikat tidak akan jadi negara super powers, yang berkuasa bisa jadi ideologi Euro. Dan Indonesia pun tidak dikuasai Belanda melainkan Perancis,” jelas budayawan Taufik Rahzen dalam Seminar dan Diskusi Nasional Menjelang Dua Abad Tambora, yang bertema Letusan Tambora 1815 Mengubah Wajah Dunia (17/12/2014).

Budayawan kelahiran Sumbawa ini memaparkan, letusan Tambora menyebabkan Napoleon Bonaparte kalah perang dari Jerman-Inggris. Kekalahan Perancis di Waterloo ini mengakhiri perang panjang di benua Eropa. Letusan Tambora juga mengubah iklim sebagian belahan dunia, hingga dikenal dengan istilah Years without Summer.

Dalam seminar tersebut, pakar Geologi Heryadi Rachmat memandang gunung Tambora pantas dijadikan Taman Nasional. Penelitian bertahun-tahun yang dilakukan Badan Geologi menunjukkan kawasan Tambora memiliki keanekaragaman flora dan fauna.

Kelayakan menjadi Taman Nasional diperkuat pula dari penelitian pakar geologi Igan S. Sutawidjaja. Menurutnya, penelitian 2004 ditemukan model kehancuran komunitas, kehidupan dan budaya penduduk Kerajaan Tambora sebelum 1815.

“Ada keinginan kuat untuk melindungi dan melestarikan situs vulkanologi dan arkeologi Tambora, sekaligus mempromosikannya sebagai tujuan wisata,” tambahnya.

Pakar geologi dari Institut Teknologi Bandung Budi Brahmantyo berpendapat kawasan Tambora menarik dijadikan geowisata. “Tentu saja wisata yang mendukung karakter geografi, budaya, pusaka, dan estetika. Dan sejalan dengan prinsip wisata berkelanjutan, sustainable tourism,” ucapnya.

Satonda untuk Masyarakat Tambora
Walau memiliki potensi geopolitik yang strategis, baik dari sumber daya alam maupun sosial budayanya, namun Tambora kurang perhatian dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Hal tersebut menyemangati pemerhati dan peduli Tambora untuk mendirikan Yayasan Tambora Indonesia (Satonda), sebagai wadah perjuangan mendukung pemerintah membangun dan mensejahterakan masyakarat Tambora dan sekitarnya.

“Satonda sepakat menjadikan peringatan dua abad Tambora, 10 April 2015, sebagai momentum awal berkarya dan menginspirasi kebangkitan “Ide Peradaban Tambora” yang berbudaya, lestari dan bermartabat. Satonda bertekad mensejahterakan masyarakat melalui kegiatan sosial, keagamaan dan kemanusiaan,” ucap Ketua Dewan Pembina Yayasan Tambora Indonesia, Drs HM Saleh Umar MSi. (AA)

Share To:

Trisakti TV

Post A Comment:

0 comments so far,add yours