Top News

 oleh Pater Tuan Kopong MSF Pertama-tama jika surat saya ini “salah” alamat saya dengan segala kerendahan hati memohon maaf sebesar-besarnya, tetapi karena menurut pemahaman saya sebagai seorang Katolik (Pastor), saya memahami bahwa Majelis Ulama Indonesia yang didalamnya adalah para Ulama yang saleh dan memiliki pengetahuan agama Islam yang tidak bisa diragukan lagi maka saya menuliskan surat ini. Alasan saya menuliskan surat ini adalah: 1.Sebagai umat Katolik dan seorang pastor, dengan segala kebebasan dan kehendak baik serta itikad baik, saya mencintai agama Islam sebagai salah satu agama besar di Indonesia yang mengajarkan kebaikan dan kebenaran untuk kebaikan bersama. 2.Agama Islam adalah agama yang Rahmatan Lil’Alamin yang membimbing setiap umatnya untuk mengikuti jalan kebaikan dan ajaran-ajaran suci dari Nabi Muhammad. 3.Sebagai umat Katolik dan seorang pastor, saya sangat menghargai dan mencintai para kyai yang selalu mengajarkan kebaikan dan kebenaran dan sangat menghormati ajaran-ajaran mereka yang membawa kedamaian dan kesejukan. 4.Sebagai umat Katolik dan seorang pastor saya menyadari bahwa tugas MUI adalah memberikan penilaian moral terhadap tutur kata, sikap dan tindak tanduk umat Islam berdasarkan ajaran suci Al-Quran. Berpijak pada beberapa alasan di atas maka saya meminta MUI untuk menertibkan mereka-mereka yang mualaf untuk menghayati dan menghidupi iman serta ajaran agama Islam secara benar untuk kebaikan dan kedamaian bersama. Saya tidak membenci mereka yang mualaf. Saya juga tidak melarang mereka untuk mualaf. Menjadi penganut agama apapun itu adalah hak asasi. Saya sendiripun memahami dan setuju bahwa seseorang yang berpindah ke agama yang baru itu adalah panggilan Allah sendiri dan merupakan jawaban pribadi yang didasari pada kehendak dan kebebasan pribadi. Tentunya ada pengalaman imanen dan transenden yang dialami dan bukan karena paksaan atau materi. Saya menuliskan surat ini karena sekali lagi saya mencintai agama Islam. Maka sayapun menjadi sedih, kasihan dan tidak menerima begitu saja ketika agama Islam dinodai dan dinista oleh kebohongan para mualaf yang mengaku mantan pastor dan lulusan terbaik universitas Vatikan, mantan pastor yang mengurus administrasi di KWI, mantan misionaris lulusan sekolah injil di Vatikan yang bapaknya seorang kardinal, mantan biarawati, mantan misionaris (perempuan) yang mengaku sekolah di seminari. Semua yang mengaku mantan dan sekarang mualaf ketika ditelusuri dan dicheck kebenarannya di dalam dokumen Gereja Indonesia ataupun schematismus kongregasi maupun keuskupan ternyata TIDAK ADA DAN TIDAK PERNAH DITAHBISKAN MENJADI IMAM ATAU PASTOR SERTA TIDAK PERNAH MENJADI SUSTER DAN MISIONARIS. Bahkan di Vatikan sendiri tidak ada universitas maupun sekolah injil. Yang mengaku mantan pastor dan lulusan terbaik universitas Vatikan ternyata TIDAK MENYELESAIKAN pendidikannya di seminari. Yang mengaku mantan pastor Jesuit (SJ) juga tidak terdaftar dalam dokumen para imam Jesuit bahkan tidak dikenal. Yang mengaku mantan biarawati atau suster juga tidak pernah menjadi anggota kongregasi yang disebutkan tetapi hanya pada masa persiapan yaitu aspiran di mana masih CALON dalam tahap pembinaan. Yang mengaku sekolah di seminari juga menggelikan karena seminari dalam Gereja Katolik tidak pernah menerima kaum perempuan. Yang diterima adalah laki-laki normal dan belum pernah menikah. Artinya yang mengaku-ngaku mantan pastor, biarawati, misionaris, bapaknya kardinal dan perempuan yang pernah sekolah di seminari adalah KEBOHONGAN yang dipertontonkan yang dengan jelas menodai ajaran suci agama Islam. Oleh karena kebohongan-kebohongan yang terus dipertontonkan oleh oknum mualaf yang mengaku mantan pastor, misionaris, biarawati, bapaknya kardinal, sekolah di seminari mendorong saya untuk menuliskan surat kepada MUI, meneritbkan mereka semata-mata untuk menjadi nilai-nilai luhur dari ajaran agama Islam. Mereka menjadi mualaf adalah hak dan kebebasan mereka. Namun kemudian alasan mualaf selalu disertai dengan kata mantan ini dan itu, sebenarnya UNTUK APA dan demi TUJUAN APA? Hanya MUI yang terhormat yang bisa bertanya kepada mereka dan mampu menilainya. Salam damai dari Manila 01-September 2020 Pater Tuan Kopong MSF
http://dlvr.it/RfvznP
Jakarta, TrisaktiPost - PSSI akhirnya memberikan respon terkait isu nepotisme di kepengurusan PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) baru-baru ini. Klarifikasi disampaikan langsung oleh Plt Sekretaris Jenderal PSSI, yakni Yunus Nusi. Yunus Nusi menjabarkan jika ada hal yang harus dibedakan dari pemilihan Wasekjen PSSI dengan petinggi PT LIB. Dia menyimpulkan tak ada nepotisme di tubuh PSSI, karena statuta mengatur pengangkatan Sekjen menjadi kewenangan Ketua Umum PSSI, termasuk menunjuk siapa Wasekjen yang bisa dipercaya. "Penunjukan Wasekjen adalah hak Ketua Umum PSSI dalam rangka percepatan pelayanan PSSI kepada member yang berjumlah ratusan anggota, baik itu klub Liga 1, Liga 2, Liga 3, Asosiasi Provinsi se-Indonesia, asosiasi-asosiasi sepak bola dan juga organisasi-organisasi sepak bola yang berafiliasi dengan PSSI,” papar kata Yunus Nusi (05/05/2020). Selain itu, dia menambahkan tugas Wasekjen PSSI ini murni di bidang administratif dan membantu peran Sekjen saja. Posisi mereka tak langsung bertanggung jawab kepada Ketua Umum PSSI. Sebaliknya, dengan adanya Wasekjen PSSI saat ini, ecara administratif, PSSI jauh lebih rapi. Beda situasinya dengan nepotisme di PT LIB. Sebab, otoritas kompetisi sepak bola Indonesia itu tak seperti PSSI yang memiliki ruang lingkup kerja begitu luas sebagai pelayanan kepada semua kegiatan persepakbolaan. PT LIB merupakan perusahaan yang menjalankan amanat untuk menyelenggarakan kompetisi sepak bola profesional di Indonesia. Sebanyak 99 persen sahamnya dimiliki oleh klub-klub peserta Liga 1 dan sisa satu persennya menjadi milik PSSI. Sebagai perusahaan profesional yang fokus dalam pengelolaan kompetisi dan keuangannya, mereka punya tanggung jawab terhadap para pemegang saham. Jadi harus memutuskan segala sesuatunya melalui rapat direksi. "Karena itu, pengangkatan staf level atas harus melalui rapat direksi. Hal-hal yang menyangkut pengelola keuangan begitu banyak maka memang sebaiknya dihindari hal-hal yang menjadi sorotan publik,” pungkasnya. [G86]
http://dlvr.it/RfvznF
loading...