Top News

Oleh Mas Syamsul Huda 

“Kalau kita ingin pidato kita menggelegar, membuat masa bertahan tanpa meninggalkan lapangan. Maka, provokasi mereka yang hadir. Sampaikan kejelekan musuh kita.”

Ini semacam standart baku bagi para oposan untuk menarik simpati masa. Terutama ketika pidato kampanya politik.

Saya belajar, sambil praktek menjadi oposisi dengan para Jenderal tua dan sebagian mantan politisi Golkar yang kemudian membentuk Barisan Nasional, dan berkantor di Gedung Graha BIP lantai 9, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Berbekal buku Thick Face, Black Hart. Buku karya Chin Ning Chu merupakan hadiah terbaik dari sahabat saya Ir. Sadar Subagyo( Anggota Dewan Penasihat Partai Gerindra).

Buku ini mengajarkan kita berjuang pantang menyerah, berisi bagaimana kita harus mampu memanipulasi kekuatan negatif kita menjadi positif.

Buku ini juga mengajarkan bagaimana mengatasi gerakan positif lawan kita, untuk selanjutnya kita manipulasi. Sehingga “tipuan” yang kita lakukan berjalan mulus. Tanpa siapapun merasa tertipu. Targetnya: Apapun yang disampaikan lawan kita, adalah palsu, tipu, bohong., dan lain sebagianya.

Buku Best Seller ini menjadi acuan para marketing dan konsultan politik di seantero jagat ini. Dan saya yakin, dua kubu yang sekarang sedang berkontestasi di Pilpres 2019 ini. Haqul yakin, mereka menggunakan konsultan politik yang dasar ilmunya berasal dari buku Chin Ning Chu.

Maka, ketika Barisan Nasional yang terdiri dari mantan TNI, sudah itu Golkar pula. Gerakan ini tadinya jalan pelan, sebab masih sulit melepas image dari bagian Orde Baru.
Perlu kerja keras dan pantang menyerah untuk bisa bergandengan dengan gerakan Mahasiswa terbesar, yakni Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta(FKSMJ).

Cukup lama untuk kami bisa berjalan bersama mereka. Dan irisan itu bisa berainggungan ketika difasilitasi Ketua PWNU-DKI, KH. Abdul Wahid Azis Bisri(Gus Wahid).
Dengan Gus Wahid inilah Barnas semakin rekat bersinergi dengan titik kumpul di rumah Gus Dur di Warung Silah- Ciganjur.

Barnas, Gus Dur dan FKSMJ oleh AA. Baramuli cs, dianggap sebagai musuh Presiden Habibie nomor satu.
Gerakan Barnas dengan forum Diskusi Jum’atan menimbulkan “kegerahan” yang luar biasa. Bahkan upaya memberangus dan menangkap tokoh Barnas, Ali Sadikin dan Kemal Idris sudah dipersiapkan kala itu.
Namun langkah itu gagal, karena Gus Dur pasang badan membela tokoh Barnas terus berekspresi sebagai oposisi.

OPOSISI ITU MUDAH.
Kenapa oposisi itu mudah?
Sebab kita tidak perlu capek kerja ngurus pemerintahan, ngurus anggaran yang cekak, menyelaraskan janji kampanye dan kerja kolektif dengan birokrasi yang belum tentu sejalan dengan kemauan Presiden.
Belum lagi pelaku KKN akibat transaksional politik dan jabatan yang sampai hari ini belum bisa dihilangkan.

Menjadi oposisi itu modalnya mulut dan dan jempol untuk mengetik WA, IG, fb, dll. Setiap hari kita wajib mantengin kegiatan Presiden, ucapan dan tindakan Presiden. Selanjutnya kita komen, fotonya kita chapture, kita buat meme. Jadilah bahan nyinyiran.

Selain kreatifitas kita sendiri, maka perlu kita cari bala bantuan dari pengamat politik yang siap berkomentar apa saja, semisal tokoh macam Rocky Gerung.

Gunanya apa?
Ini sekedar membuat publik semakin yakin bahwa gerakan oposisi yang kita himpun ini kredibel.
Dan tidak cukup satu tokoh itu saja, perlu direkrut, digandeng banyak tokoh dari tingkat nasional hingga tingkat RT, agar proses amplifikasi suara oposan bisa merasuk hingga jantung rakyat yang paling bawah.

Namun saya menyayangkan, gerakan oposan yang sekarang dibangun oleh lawan Presiden Jokowi ini terlalu kasar, jorok dan menjijikkan.
Tidak hanya sekedar berkomentar soal kerja dan prestasi Presiden yang “dirusak”. Namun, hingga pribadi, fisik hingga keluarga besarnya pun dirusak dengan fitnah-fitnah yang keji.

Kami dulu juga oposan, tetapi kami selalu menjaga kehormatan, martabat dan harga diri Presiden.
Pak Kemal Idris, Ali Sadikin, Gus Dur boleh dibilang tidak suka dengan Presiden Habibie dan mantan Presiden Suharto.
Namun sepengetahuan kami, tidak pernah Bapak-Bapak itu menyerang secara fisik, pribadi dan keluarganya secara terbuka dan frontal.
Apalagi memfitnah dan mencaci maki dengan kata, “wajah ndeso, plonga-plongo, Presiden gak kelas, dan lain sebagainya.”

Saya cukup berdiri dipinggir lapang pertandingan hingga Pilpres yang akan dilaksanakan 17 April 2019, mendatang.

Dan terus terang saya kecewa dengan perilaku banyak kawan-kawan saya yang bisa bertindak brutal melalui kata dan tulisannya. Kekecewaan saya sudah sampai pada titik didih, muaaaak....!

Kiri dan kanan saya banyak kenal, saya banyak bergaul secara pribadi dengan tokoh-tokoh yang sering “bertarung di ILC.
Namun gara-gara pilpres 2019, semua persahabatan, persaudaraan bisa hancur seketika.

Terus terang, saya ingin pilpres itu kalau bisa dimajukan besok tanggal 17 Januari saja. Biar perdebatan tidak perlu berpanjang-panjang lagi.

Saya sudah malas membaca share berbagai tulisan fake dan hoaks yang setiap hari selalu datang silih dan berganti.
*Pesan untuk seluruh saudara, sahabat dan kerabat semua:
Kita tidak perlu bertengkar, kita tidak perlu saling menihilkan diantara kita.
Kita adalah satu; satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.

Pilih Presiden jagoanmu yang menurutmu  bisa membangun negeri ini.
Tidak perlu nyinyir bila ada yang berbeda dengan pilihanmu.

#Kalau saya; pasti pilih Jokowi, sebab dia sudah bekerja keras membangun negeri ini.
Terlebih wakilnya KH. Ma’ruf Amin, Guru dan mentor saya didalam membangun Nucare-Lazisnu.

#Ingat, jangan marah ketika saya sudah menjatuhkan pilihanku.

# Salam Damai Untuk Indonesia.
loading...