TRENDING NOW

Jakarta, TrisaktiPost.com - Agama semestinya dijadikan sebagai spirit untuk mentransformasikan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH. Maman Imanulhaq dalam Simposium “Optimisme Indonesia untuk Dunia; Spirit Sumpah Pemuda 1928 Untuk Indonesia Sebagai Negara Bhinneka Tunggal Ika” yang diselenggarakan oleh Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) pada Jum'at (28/10) di Graha Oikoumene PGI lantai 5, Jl. Salemba Raya No. 10 Jakarta Pusat.

Lebih jauh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi itu mengingatkan masyarakat dan para generasi muda bahwa masih ada nilai kerukunan antar agama melalui bingkai kebhinekaan. Jangan sampai terpengaruh dengan para oknum yang menghasut perpecahan bangsa ini.

"Musuh kita hanya dua, yakni kelompok transnasional dan kelompok transaksional yg dibayar untuk menghancurkan kebhinekaan dan nilai-nilai Pancasila", ungkap Kyai Maman.

Karena itu, dalam situasi aktual saat ini, menurut Kyai Maman, Sumpah Pemuda adalah sebuah tantangan patriotisme kita untuk mempertahankan Indonesia sebagai Negara Bhinneka Tunggal Ika.

Sympoaium sendiri seperti diungkapkan oleh Nia Syarifudin dari ANBTI, merefleksikan makna Sumpah Pemuda serta beragam gagasan untuk membangkitkan optimisme Indonesia.

Selain Kyai Maman, hadir sebagai pembicara dalam symposium tersebut tokoh-tokoh lintas agama: Pdt. Gomar Gultom (PGI), Pangeran Djatikusumah (Tokoh Adat Sunda), Mgr. Ign. Suharyo (KWI) dan Uung Sendana (Matakin).

"Peserta symposium adalah anggota jaringan penggerak, gerakan lintas iman, mahasiswa, pelajar, LSM, masyarakat umum dan media", jelas Nia.

Selain Simposium, acara yg digelar dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda ke 88 itu diisi juga dengan dialog, pertunjukan seni musik tradisional, tarian rakyat, serta makan malam dengan hidangan PKL yg terjamin enak-bersih.

Seluruh gelaran acara didukung oleh LDNU (Lembaga Dakwah NU), PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia),Komisi Kepemudaan KWI (Konferensi Waligereja Indonesia), MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), AKUR (Adat Karuhun Urang), Gusdurian, Maarif Institute, FMKI (Forum Masyarakat Khatolik Indonesia), JAI (Jamaah Ahmadiyah Indonesia), PA GMNI (Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) dan ICRP (Indonesian Conference in Religion and Peace). (AD1)
Jakarta, TrisaktiPost - Menjelang perhelatan Pilkada DKI Jakarta semua pihak agar menghentikan segala bentuk provokasi yang berbau politisasi agama.

Demikian seruan itu disampaikan oleh Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), KH. Maman Imanulhaq menyikapi kontroversi pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) soal surat Al-Maidah ayat 51 di hadapan warga Kepulauan Seribu, pekan lalu (27/9).

Terlepas dari keliru tidaknya konteks pernyataan Ahok, Kyai Maman menilai sebagai pejabat publik Ahok telah bertindak ceroboh hingga timbul kegaduhan dan perdebatan publik.

"Perlu kesadaran dari semua pihak agar tidak lagi menarik-narik agama dalam konstelasi politik Pilkada DKI untuk menghindari gesekan atau konflik sosial", ungkap Kyai Maman.

Karena itu, Kyai Maman berharap semua kandidat Gubernur DKI Jakarta untuk tidak lagi mempolitisasi agama dan ayat suci demi meraih kemenangan. Pikirkanlah hal yang lebih luas, yakni kepentingan rakyat.

"Lebih baik adu ide, gagasan dan program. Tunjukkan kualitas tanpa merendahkan, menjatuhkan maupun menghujat lawan politik", kata Kyai Maman.

Pilkada DKI Jakarta merupakan ajang tepat untuk memberikan pendidikan politik yang benar dan sehat kepada masyarakat. Apalagi menurut Kyai Maman, DKI Jakarta menjadi barometer bagi kemajuan demokrasi Indonesia.

Momentum Pilkada DKI Jakarta seharusnya dijadikan sebuah kompetisi atau pertarungan politik yang cerdas dan santun untuk menghasilkan pemimpin berkualitas demi Jakarta yang lebih baik.

"Mari kita hadapi perhelatan Pilkada DKI ini dengan damai, penuh kegembiraan. Tidak memicu kegaduhan umat lewat intrik, fitnah, hujatan dan cemoohan yang bernuansa SARA", pungkas Maman. (AD1)