Top News

Joko Widodo

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera
Om swastiastu
Namo budaya
Salam kebajikan

Kita bangsa Indonesia, patut berbangga, patut berbahagia, patut bersyukur bahwa kita telah terbukti menjadi bangsa yang dewasa. Dewasa dalam berdemokrasi, dewasa dalam berbangsa dan bernegara, dewasa dalam ber-ideologi Pancasila

Kita bersyukur dan berbangga, bahwa di tengah keberagaman, kita telah dewasa dalam menjaga perdamaian. Dewasa dalam mengelola perbedaan dan dewasa dalam menjaga dan memperkokoh persatuan.Bukti nyatanya adalah, kedewasaan kita dalam berdemokrasi, kemampuan kita untuk menyelesaikan pemilu yang jujur dan adil,  serta pemilu yang penuh perdamaian dan kegembiraan.

Pemilu demi pemilu telah kita lalui dengan penuh kedewasaan. Pemilu yang sekarang ini, saya yakin akan bisa kita lalui secara damai dan sesuai amanat konstitusi kita.

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT, rekapitulasi nasional Pemilu Serentak 2019 pada dini hari tadi, rakyat Indonesia telah menentukan pilihannya dalam pileg dan pilpres. Inilah makna hakiki dari rakyat yang berdaulat

Saya dan Kyai Ma’ruf Amin mengucapkan terimakasih kepada seluruh rakyat Indonesia di manapun berada atas kepercayaan yang diberikan kepada kami.

Kepercayaan dan amanah rakyat kepada kami tersebut akan kami wujudkan dalam program-program pembangunan yang adil dan merata, untuk seluruh golongan dan lapisan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.

Setelah dilantik di bulan Oktober nanti, kami adalah Presiden dan Wakil Presiden seluruh rakyat Indonesia. Kami adalah pemimpin dan pengayom dari 100% rakyat Indonesia. Kami akan berjuang keras, demi terwujudnya keadilan sosial, bagi seluruh rakyat, bagi 100% rakyat Indonesia

Marilah kita bersatu padu membangun bangsa dan Tanah Air tercinta demi kedamaian & kesejahteraan generasi kita, serta generasi anak cucu kita di masa depan.

Terakhir, saya mengapresiasi setinggi-tingginya atas kinerja Penyelenggara dan Pengawas Pemilu. Kepada tokoh masyarakat dan juga peserta pemilu, kepada aparat keamanan, serta semua pihak termasuk para saksi yang telah siang malam bekerja dengan tulus demi Pemilu yang jujur dan adil.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

21 MEI 2019
Ukus Kuswara @Kemenpar RI


Taufik Rahzen

Ukus Kuswara adalah jangkar garam. Ia adalah jangkar, dari kapal yang sedang melayari samudra cinta. Kehadirannya meluruhkan ego masing masing dalam kebersamaan, ketidak hadirannya meneguhkan dimana posisi kita berada. Ketiadaannya justru menghadirkan keberadaannya.

Namun jangkar ini, tidak disusun oleh besi, kayu atau benda benda. Ia tak berbentuk, tak terlihat. Ia berwatak garam, terasakan tapi tak terkatakan. Keberadaannya selalu membuat titik azimut : titik patokan dari mana kita harus berangkat, kemana kita mencari tanda kembali, jika tersesat.

Ukus adalah jangkar garam. Ia memberikan rasa dalam persahabatan. Diantara waktu yang bergerak mengikuti iramanya, ia memilah antara ombak dan riak dalam gelombang. Ia selalu tersenyum dalam lautan rasa. Seolah berkata : hiduplah kini, disini. Ia menjadi penyedap dan pengingat. Sedapnya hidup, namun mengingatkan betapa fana.

Ia adalah peziarah wara. Yang menyembunyikan kesalehan dalam tindakan, yang menyapa dalam kesendirian. Yang menyusuri lorong ruang dan lorong waktu. Ia pembuka pintu pertama , sekaligus penutup kunci terakhir. Ia melayap diantara siang dan malam, memeriksa apa yang tersisa, memeriksa apa yang terlupa.

Ukus Kuswara adalah saksi. Tentang tempat dan peristiwa. Suatu saat pernah bercerita : bagaimana ia berbaring dari lantai ke lantai. Menyaksikan gedung Sapta Pesona, disusun dari bata ke bata, bersembahyang diantara serpihan ruang yang sedang terbangun. Sendiri ditengah keheningan. Dan kemarin, ia dibaringkan dan disembahyangkan di lantai yang sama ia berbaring, tiga puluh tahun yang silam. Disembahyangkan oleh semua yang mencintainya, dan dalam keadaan berbaring ia tetap tersenyum.

Cara melakukan tindakan mencerminkan sifat dari tujuannya. Itulah ajaran sunyi yang selalu dibeberkan melalui tanda tanda. Demikian pula dengan kepulangan yang tiba tiba ke tanah kelahirannya. Ia disambut azan Asar di Mesjid Agung Kuningan, di bawah matahari kuning. Saat ia dikembalikan dengan tenang di gua garba, rumah sementaranya, sinar asar merayap diantara daun dan batang pohon. Diantara derai dan desau, ia seperti menghentikan peristiwa. Diantara mata mata yang basah, terdengar lamat lamat lantunan yang selalu menjadi panduan hidupnya.

"Demi waktu (Asar). Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang beriman dan beramal saleh, serta mereka yang saling nasehat menasehati dalam KEBENARAN dan KESABARAN."

Ia menggenapkan ayat ini dalam hidupnya, dan memberi kesaksian dalam kematian. Betapa indahnya. Jangkar garam itu telah berlabuh.

Takzim, sahabatmu yang fana Taufik Rahzen.
loading...